Ngoceh Jam Tangan: Movement Jam Tangan

Saia sekarang adalah penikmat jam tangan. Tadinya tidak. Sampai Manampiring (@newsplatter) suka ngoceh di Twitter soal jam ini, jam itu dan akhirnya, saia juga ikutan ngoceh. Waktu itu, ilmu soal jam tangan saya adalah bahwa ada jam tangan digital yang murah, jam tangan analog yang mahal, jam tangan gabungan digital dan analog yang agak mahal, semuanya pake baterai dan semuanya sudah ketinggalan jaman.

Nggak 100% salah. Biarpun nggak bener-bener amat. Jam tangan pastilah sudah ketinggalan jaman. Zaman sudah ada komputer, internet dan smartphone, perangkat yang cuma buat menunjukkan waktu jelas redundan. Belum lagi (terkadang, atau…, seringkali) membuang-buang uang. Tapi bahwa setiap jam tangan butuh baterai, jelas salah. Tahu sih kalo ada jam yang tidak butuh baterai, tapi tidak jam tangan. Jadi artikel ini akan menjelaskan pemahaman dasar soal movement jam tangan.

Cara terbaik mendefinisikan jam tangan adalah dengan movement-nya. Mesin dan penggerak sebuah jam tangan. Ada dua movement utama, mekanik dan quartz. Jam tangan mekanis menggunakan pegas / per sebagai sumber tenaganya. Pegas akan menggerakan escapement yang akan menggerakkan jarum jam (dan mungkin komponen lain). Jam tangan quartz menggunakan listrik untuk membuat kuarsa (semacam mineral) ‘berdetak’. Detak ini mengatur sebuah motor listrik yang akan menggerakkan jarum jam. Atau jika jam digital, menampilkan angka yang tepat. Jam mekanik yang menggunakan pegas tentunya tidak memerlukan baterai. Sebaliknya, jam quartz akan membutuhkan baterai.

Pegas pada jam mekanik harus ‘diputar’ untuk menyimpan tenaga. Bisa diputar manual oleh tangan atau bisa juga secara otomatis melalui bandul (biasa disebut rotor). Maka dari itu, dikenal adanya jam tangan manual dan jam tangan otomatis. Jam tangan mekanis modern dapat menyimpan tenaga hingga 40 jam. Beberapa jam tangan dapat bertahan lebih lama. Ada yang dapat bertahan hingga 50 jam, 80 jam bahkan ada yang dapat bertahan hingga 7 hari. Sekalipun demikian, banyak jam tangan otomatis juga menyertakan fitur manual sebagai fitur tambahan.

Pada movement quartz, baterai perlu diganti jika tenaganya sudah habis. Tapi terkadang ada alternatif lain. Beberapa jam tangan menyediakan cara untuk mengisi ulang baterai. Ada yang menggunakan teknologi pengisian dengan menggunakan cahaya, seperti Citizen Eco Drive. Yang lain, misalnya Seiko Kinetic, menggunakan bandul pada jam tangan (masih ingat movement otomatis?) untuk menghasilkan tenaga untuk mengisi ulang baterai.

Salah satu penyebab kegemaran pada jam tangan mekanis adalah karena jarum tangannya ‘menyapu’ bukan berdetak. ‘Menyapu’ dalam tanda petik. Yang artinya tidak menyapu. Jam tangan mekanik juga berdetak seperti jam tangan quartz, hanya saja lebih sering. Jam tangan kuno bisa berdetak cukup pelan sekitar 5 beats per second (bps) bahkan 3.5 bps. Jam tangan modern berdetak sekitar 6-8 bps. Beberapa jam tangan high beat bahkan mencapai 10 bps. Ironisnya, beberapa jam tangan yang (sangat) mahal, seperti Audemars Piguet kaliber 2905, membuat movement mekanis yang dapat berdetak 1 bps seperti halnya jam quartz. Di sisi quartz, sekalipun berdetak 1 bps adalah kewajaran, ada juga beberapa jam tangan langka yang berdetak lebih cepat. Bulova Moonwatch berdetak hingga 10 bps. Seiko menempatkan mekanisme mekanik pada movement quartz yang menghasilkan mecha-quartz. Pada mecha-quartz, jarum detik biasa berdetak 1 bps sementara jarum detik stop watch-nya ‘menyapu’.

Semua jam tangan pasti tidak akan memiliki akurasi sempurna. Jam tangan mekanik sudah cukup akurat jika meleset (lebih atau kurang) 10 detik per hari. Jam tangan quartz? Meleset 10 detik per bulan. Jam tangan quartz digital? Bahkan lebih baik lagi. Produsen jam tangan menggunakan berbagai teknik untuk mencapai akurasi yang lebih baik. Bahan yang berbeda, proses pembuatan yang lebih presisi. Jam tangan mekanik juga membutuhkan pelumas tambahan. jadi sekalipun tidak memerlukan pergantian baterai, servis atau perbaikan secara berkala tetap diperlukan oleh jam tangan mekanik.